Bagi sebagian yang berkelu lidah (tak mampu bercerita melalui lidah), jari merupakan bagian tubuh yang menjadi anugerah dari Tuhan untuk mereka yang terbungkam atau dibungkam. Menulis tak selalu soal kepiawaian dalam seni sastrawi, tapi menulis adalah bagaimana kamu menjadi dirimu sendiri di sebuah kertas yang kemudian kamu bubuhkan dengan kata hati.
"Menulis, agar tidak pikun"
Bukan pertama kalinya buatku untuk menulis, tapi mungkin akan menjadi pertama kalinya buatku untuk, menjadi berani melambungkan tulisanku ke internet. Karena biasanya aku hanya menulis hanya untuk sekadar menulis jurnal harian, fiksi penggemar, skenario sebelum tidur, cerita-cerita pendek, dan sedikit kutipan sajak. Semua itu hanya ku tulis untuk ku baca sendiri. Dan ini tentu bukan blog pertama ku, karena aku sudah dua kali membuat blog yang berujung pasif karena tak becus dalam merawat dan mengembangkan tulisanku yang berujung mangkrak. Kuharap kali ini dapat berbeda.
Aku tak mengharapkan tulisanku mampu menjangkau dan disukai oleh semua orang, tapi aku berharap melalui tulisanku disini, mampu menjadikan diriku menjadi orang yang lebih ekspresif, setidaknya melalui diksi-diksi yang ku pilih. Mampu menyuratkan pesan yang dapat tersampaikan kepadamu wahai pembaca.
